simbol.id - Bebegig Sukamantri Ciamis masih hidup di ingatan kolektif warga utara Tatar Galuh sebagai topeng raksasa bermata melotot yang tidak sekadar menakut-nakuti. Dari Desa Cempaka, Kecamatan Sukamantri, warisan ini tumbuh sebagai simbol penjaga lingkungan dengan filosofi yang jauh lebih dalam dari sekadar karnaval. Update terkini per 3, Nov, 2026, 01:18:23 menunjukkan antusiasme publik justru menguat di panggung nasional.
Data historis mencatat sosok menyeramkan itu diyakini sebagai representasi kemenangan Prabu Sampulur, penguasa sakti di bukit keramat Tawang Gantungan. Cerita tutur menyebut ia memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan menguasai Pulau Jawa. Kemenangan itu dikenang lewat pembuatan kedok wajahnya yang kemudian diwariskan turun-temurun di Desa Cempaka.

Filosofi Rambut Bubuai dan Rahasia Menjaga Hutan Larangan
Bebegig meskipun seram, rambut gimbalnya tersusun dari bunga rotan yang disebut bubuai atau bubuai caruluk menyiratkan kecintaan pada alam semesta. Dalam bunga-bunga itu masih tersimpan ribuan benih rotan. Jika pemilik wajahnya berjalan dan menggerak-gerakkan rambutnya, ia bagaikan kupu-kupu yang mengisap sari bunga dan menebarkannya ke daerah lain. Itu sebabnya rambut lelaki seram itu tak pernah diganti ijuk sembarangan atau benda lain karena dari rambut itulah ia menyimpan rahasia menjaga alam.
Berdasarkan informasi terkini dari penuturan Pamong Budaya Disbudpora Ciamis, Eman Hermansya per 17 November 2023, atribut topeng juga memakai ijuk kawung atau aren yang terurai panjang, mahkota dari kembang bubuay dan daun waregu pancawarna, plus hiasan kembang hahapaan dan daun picisan. Filosofinya dimaknai dari pohon kawung yang semua bagiannya bermanfaat, waregu sebagai simbol kebaikan, sementara susunan rapi bubuay melambangkan silih asah, silih asih, silih asuh.

Ritual Makam dan Arak-arakan Agustusan yang Spektakuler
Sebelumnya dilaporkan bahwa masyarakat di bagian utara Ciamis masih menggunakan topeng raksasa ini untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pembuat kedok pergi ke makam untuk menemukan suasana seram. Pengguna menyimpan kedok di makam hingga tiga hari. Dari pemakaman umum itu ratusan orang keluar dan berarak-arak keliling desa. Setelah acara selesai, bebegig akan ditinggalkan di makam khusus. Pola ritual ini memperlihatkan relasi spiritual antara warga, leluhur, dan hutan larangan.
Seni tradisi ini spektakuler karena melibatkan banyak orang untuk arak-arakan. Data lama mencatat masyarakat dari muda hingga tua rela mengeluarkan uang sendiri sekitar Rp 250.000 untuk membeli bebegig. Dalam perkembangan terbaru per 2026, biaya produksi kostum seberat 25 sampai 40 kilogram itu melonjak karena kelangkaan kayu dan rotan, tapi partisipasi justru meningkat. Aspek gotong royong semacam ini relevan dengan manajemen kolektif waktu dan tenaga di komunitas agraris.
Transformasi Menjadi Ngarumat: Medley Budaya Ciamis
Racmayati atau Rachmayati Nilakusumah menjelaskan seni baru ngarumat merupakan berbagai seni tradisi di Ciamis yang dirangkai dan dipertontonkan. Dalam seni musik metode itu disebut medley. Kreasi ini digarap selama delapan bulan pada tahun 2006 bersama pembina kesenian STSI Bandung, Yuyus Supriatna dan Endi Ependi. Tujuannya mengangkat tradisi khas Ciamis ke panggung yang lebih terkurasi.
Dalam konsep ngarumat yang berarti memelihara, kesenian helaran asal Cempaka yang semula hanya diiringi musik kelotok atau kolotok aksesori yang dikalungkan pada kerbau dan sapi, kemudian ditambah beduk marung dari Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, sehingga disebut dugig atau beduk dan bebegig. Kreasi dengan topeng raksasa ditempatkan di akhir pementasan sebagai representasi penjaga lingkungan. Karena itulah masyarakat agraris bisa menunjukkan hasil tani melimpah seperti ketupat dan galendo dari kelapa.
Sebelumnya, dalam rangkaian ngarumat juga ditunjukkan cara masyarakat memelihara alam dengan menebarkan benih. Penebaran benih diawali dengan parukuyan terbuat dari pelepah bunga kelapa kering yang dibakar dengan kemenyan. Pemegangnya mengibas-kibaskan parukuyan ke sekitar tempat penanaman benih. Upacara ini juga mempertunjukkan Tari Sintung. Penanaman benih diikuti ritual nyangku dari Panjalu untuk mengambil air bersih dari sumber air. Untuk menjaga yang sudah ditanam dan disiram, upacara dilengkapi tanjidor dari Buniseuri yang menggunakan tabuh beduk, kendang, calung renteng, genjring, rebab, dan sinden. Mulanya seni ini dipakai orangtua yang berjaga malam pada masa pendudukan Jepang untuk menghela bosan dan kantuk.
Status WBTB 2018 dan Panggung Galuh Ethnic Carnival 2026
Berdasarkan informasi terkini, kesenian asal utara Ciamis ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional oleh Kemdikbud RI pada tahun 2018. Penetapan itu menguatkan posisi Desa Campaka dan Desa Sukamantri sebagai kantong pelestarian. Data historis mencatat berat topeng sekitar 20 kilogram dengan cara dipikul seperti ondel-ondel, sementara catatan terbaru 2023-2026 menyebut bobot total kostum mencapai 25 hingga 40 kilogram, dimainkan satu orang satu kostum secara berkelompok dengan gerakan duel dan irama ketukan kolotok kayu yang digoyang.
Dalam perkembangan terbaru, tradisi topeng seram Sukamantri tampil sebagai bintang di Galuh Ethnic Carnival 2026 pada 11 Juni 2026 dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 di Pendopo Bupati. Ribuan warga memadati pusat kota. Acara digagas Disbudpora Ciamis menghadirkan puluhan kelompok seni. Update terkini per 3, Nov, 2026, 01:18:23 mencatat kehadiran serupa di luar daerah, tepatnya karnaval Hari Jadi Kuningan ke-528 pada 13 September 2026 di Jalan Siliwangi hingga Taman Kota Kuningan, di mana helaran asal Ciamis jadi magnet ribuan pasang mata.
Sementara itu, data sebelumnya menunjukkan helaran ini hanya identik dengan agustusan dan khitanan, kini kondisinya berkembang menjadi ikon Calendar of Event 2025 Kabupaten Ciamis kategori Rising Star. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata menginventarisasi 163 event dan menempatkan Helaran Bebegig Sukamantri di daftar unggulan. Proyeksi redaksi, tren ini membuka peluang ekonomi kreatif yang lebih luas, dari workshop pembuatan topeng hingga paket wisata edukasi hutan Tawang Gantungan. Potensi ini sejalan dengan peluang ekonomi kreatif berbasis budaya yang tumbuh di era digital.
Analisis Redaksi: Dari Penjaga Hutan Menuju Ikon Pariwisata Berkelanjutan
Tim redaksi melihat evolusi yang menarik. Pada awalnya dilaporkan ritual pengusir roh jahat, kini bertransformasi menjadi medium edukasi lingkungan. Nilai tambah informasi terletak pada filosofi benih rotan di rambut bubuai yang selaras dengan praktik reboisasi. Ketika penari mengibaskan rambut, benih secara simbolik menyebar, mirip peran kupu-kupu. Pesan ekologis itu jauh lebih relevan di tengah krisis iklim 2026 dibanding sekadar tontonan horor. Kekuatan narasi ini yang membuat tradisi topeng raksasa tersebut bertahan, bukan sekadar estetika seram.
Dari sisi kesehatan dan keselamatan pemain, bobot 25-40 kg dengan lonceng sapi di punggung dan rumbai daun tanaman menuntut stamina dan kebugaran tinggi. Pemain perlu menjaga pemulihan yang optimal agar tetap prima saat arak-arakan panjang. Konteks ini mengingatkan pada pentingnya pemahaman kesehatan holistik untuk pelaku seni tradisi agar regenerasi tetap berjalan.
Tantangan lain ada pada regenerasi perajin. Bahan baku ijuk kawung, daun waregu, kembang hahapaan kian terbatas akibat alih fungsi lahan di utara Ciamis. Data sebelumnya menunjukkan harga Rp 250.000 per topeng pada 2012, kini biaya bisa tiga hingga empat kali lipat. Solusi yang mulai terlihat per 2025-2026 adalah kemitraan desa wisata dengan kampus seni dan komunitas, termasuk budidaya rotan dan aren secara kolektif sebagai bank material budaya berkelanjutan.
Proyeksi ke depan, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas di Ciamis akan menentukan apakah helaran ini naik kelas menjadi destinasi wisata budaya unggulan Jawa Barat. Dengan dukungan digitalisasi dokumentasi, arsip gerak tari, dan pelatihan pewaris muda, nilai jual tradisi ini tidak lagi bergantung pada momentum Agustusan saja. Data historis mencatat delapan bulan penciptaan ngarumat, sementara semangat terbaru 2026 menunjukkan percepatan kurasi yang lebih sistematis.
Jangan lewatkan perkembangan cerita-cerita budaya Tatar Galuh dan tradisi topeng raksasa lainnya. Pantau terus update eksklusif liputan lapangan dan analisis mendalam hanya di simbol.id agar wawasan budaya Anda tetap relevan dan inspiratif.